Galih Satria - View my most interesting photos on Flickriver

Budaya Membaca, Kenapa Menjadi Sebuah Gaya Hidup Mewah?

Date January 4, 2009

Tentang Sebuah Keprihatinan Bahwa Hobi Membaca itu Mahal

Sore itu, malam minggu di awal tahun 2009, Jakarta sungguh cerah. Usai mencuci si Jupie hitam di bilangan Cililitan, saya melarikannya ke Gramedia Matraman, tempat favorit saya belanja belanji buku. Setiap kali ke toko buku ini, saya merasa menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang kaya raya. Padahal, Gramedia tak lebih dari sebuah toko buku. Tetapi lihat tempatnya yang begitu berkilau, mewah, pencahayaan sempurna, pelataran parkir yang luas penuh sesak dengan mobil, dan pengunjung dengan air muka yang mengesankan: kecerdasan, wawasan luas, serta — jika meminjam istilah gaul — kebebasan finansial.

Saya tak heran. Untuk bisa membawa sebuah buku pulang, nyaris tidak ada buku bermutu yang berada di bawah harga Rp. 30.000. Buku yang agak bagus dengan sampul yang aduhai mengkilap dengan desain yang luar biasa harganya sekitar Rp. 55.000. Agak bagus, karena kebanyakan buku-buku itu misleading: berjudul menarik bersampul menggoda, padahal jika ditelusuri isinya sekilas saja, tidak ada sesuatu yang bagus. Nah, buku-buku yang benar-benar bagus biasanya bersampul tebal (hardcover) dan ini harganya amit-amit, di atas Rp. 70.000. Praktis, Anda harus minimal mengeluarkan lembaran uang berwarna biru dari dompet Anda. Jadi wajar kalau kebanyakan yang berkunjung ke sini adalah orang-orang dengan kebebasan finansial.

Padahal, buku adalah sumber ilmu pengetahuan dan wawasan tanpa batas. Lalu jika begini, kapan kita bisa maju? Impian budaya membaca untuk bangsa ini rasanya jauh sekali. Padahal, ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun berbunyi: Iqro. Bacalah! Bagaimana bisa membaca kalau harga bacaan saja selangit?

Satu-satunya media yang paling dekat dengan masyarakat luas adalah TV terestrial. Tapi astaga, tayangan yang ada hanyalah arus pembodohan massal. Itu bukan sumber wawasan, hanya industri saja. Benar-benar mengerikan menyadari apa yang tersaji di televisi dan tahu tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya: sinetron perusak moral, dan berita yang isinya tentang mutilasi melulu. Televisi dengan isi yang bagus sekarang malah TVRI, tapi penyajiannya tidak pernah berkembang sehingga terkesan norak dan ketinggalan jaman. Oh, come on:(

Bagaimana dengan perpustakaan? Aih, dengan minat baca yang rendah, perpustakaan menjadi sebuah artifak kuno penuh dengan rak-rak berdebu yang suram temaram. Setiap sore di hari Jumat Kliwon dan Selasa Pahing, anak-anak hantu genderuwo menampakkan diri dan dengan riang gembira meloncati rak-rak buku itu, membuat penjaga perpustakaan kabur tunggang langgang. Satu-satunya perpustakaan yang saya tahu selalu penuh dengan atmosfer dan aura yang meletup-letup haus akan ilmu pengetahuan adalah perpustakaan kampus universitas. Tapi hei… sekarang mau masuk universitas juga mahal. Glek…

Kalau begini, kapan kita bisa maju?

Disclaimer: Ke Gramedia, bukan berarti saya juga ikut-ikutan bebas secara finansial, tapi memang karena saya suka membaca, jadi saya sekuat tenaga selalu menyisihkan anggaran untuk membeli buku.

Dua Belas Foto Terbaik Saya di 2008

Date January 1, 2009

Lentera Lentera, Kampus FK Universitas Indonesia

6 April 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Still Life

Kesederhanaan komposisinya membuat saya memilihnya menjadi foto tahun ini

Selamat Pagi, Kampus UI Selamat Pagi Kampus UI

12 April 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Kunjungan pertama saya ke kampus UI Depok, disambut dengan cuaca begitu cerah di lingkungan fakultas Ekonomi. Jadi pengen sekolah lagi (hiks..)

Bersama dalam Cintah Bersama dalam Cinta(h), Waru Sidoarjo

23 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Prewedding

Prewedding Mas Kamas dan Mbak Wawa ini foto prewedd terbaik saya di 2008. Dibandingkan dengan prewedd milih Mas Choirul dan Mbak Lisa, ini lebih kaya konsep dan khayalan.

Puncak Gede (2) Puncak Gede, Gunung Gede Jawa Barat

18 Mei 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Pendakian gunung pertama saya bersama VICO Challenge Adventure Team (VCAT)

Menikmati Pagi Menikmati Pagi, Puncak Gede, Jawa Barat

18 Mei 2008 | Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | Landscape

Seperti kata mbak mae, Gunung Salak nun jauh di sana menjadi tampak seperti pulau di atas awan, dan rombongan orang gunung yang sejenak menikmati pagi yang hening, syahdu, dan sepi…

Pantai Brumbun (6) Laguna, Pantai Brumbun, Tulungagung

22 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Cuaca terbaik yang begitu cerah, itu yang membuat saya suka sekali dengan foto ini, Pantai Brumbun, pantai kecil yang begitu cantik.

Becak (1) Becak, Pasar Ngemplak Tulungagung

0 Maret 2008 | Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm | Human Interest

Di sebuah liburan long weekend, mengantarkan ibu membeli bahan lauk pauk di Pasar Ngemplak.

Jembatan Mangunsari Jembatan Mangunsari, Tulungagung

07 Oktober 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Arsitektur

Bukan di golden momment, sehingga saya surprise hasil jembatan Mangunsari yang biasa-biasa saja kok jadi begini he he he…

The Prigi Beach The Beach, Pantai Pasir Putih Prigi, Trenggalek

22 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Saya tak pernah lagi menjumpai suasana Prigi seperti ini: tak terlalu banyak pengunjung, dan cuaca yang begitu cerah.

Sudut Lain Jakarta Sudut Lain Jakarta, Wisma Mulia Gatot Subroto

Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Bird view yang ekstrim, karena diambil dari lantai 48 gedung Wisma Mulia Jakarta

The Icon The Icon, FK UI Salemba

8 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Saya suka pencerminan gedung di genangan air dan warna kuning kontras khas mahasiswa UI

Pantai Brumbun (1) Dari Puncak Bukit, Pantai Brumbun, Tulungagung

22 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Boleh percaya boleh tidak, ini obsesi saya untuk memotret sudut yang saya tahu dari kalender tahun 90-an waktu saya masih jadi anak kecil.

Dua belas foto terbaik saya di tahun 2008 telah saya susun. Kebanyakan landscape karena tahun ini saya tergila-gila dengan lensa landscaper Sigma 10-20 mm HSM. My best of the best tentu saja adalah foto pendakian Puncak Gede di bulan Mei 2008 dan hunting foto di Pantai Brumbun dan Pantai Prigi di bulan Maret 2008. Tahun 2009, saya berangan-angan bisa keluyuran lebih banyak lagi di sekitar Jabodetabek seperti dulu waktu pagi-pagi di Sunda Kelapa. Terima kasih untuk kawan-kawan saya yang telah memberi apresiasi, komentar, kritik, dan saran untuk foto-foto saya sehingga bisa terus belajar mengeksplorasi seni dan sains fotografi. Astalavista.. babeh…

Terkait: Sepuluh Foto Terbaik Tahun 2006/2007

Tentang Foto Saya di 2008

Date December 31, 2008

Postingan akhir tahun nih, sebelum mengeluarkan seri jepretan-jepretan terbaik saya di 2008, saya mau berceloteh dulu tentang apa yang telah dihasilkan di 2008 secara konsep.

Tahun 2008 adalah tahun penuh warna dalam perjalanan hunting fotografi saya. Secara konsep, saya mulai bosan dengan komposisi-komposisi standar dan warna-warna kontras yang eye catching dan menarik untuk dinikmati. Mungkin ini adalah proses pencarian jati diri fotografi yang masih belum menemukan ujungnya. Saya kebanyakan tertarik dengan sesuatu yang aneh dan keluar dari pakem yang seharusnya. Hasilnya, buat bagi saya sendiri maupun orang lain, mungkin tidak terlalu bagus, tapi buat saya, itu sangat menarik (exciting). Mentransformasikan angan-angan ke dalam sebuah foto dan hasilnya sesuai dengan apa yang saya bayangkan: itu sangat menarik!

Maret 2008, saya membeli lensa landscape Sigma 10-20 mm sebagai hadiah ulang tahun untuk saya sendiri. Pembelian itu cukup membuat ikat pinggang kencang, karena empat juta bukanlah uang yang sedikit untuk saya, apalagi uang sebanyak itu *hanya* untuk sebuah lensa yang nota bene untuk hura-hura. Tapi karena sudah pengen banget bisa motret landscape dengan puas, saya beli juga itu lensa dengan proses nyicil pakai kartu kredit.

Paruh terakhir tahun 2008, saya sampai pada titik bosan terhadap fotografi. Sangaaaat bosaaaan, apalagi jika disuruh motret acara kantor: malaaaaaaaaaaas luar biasa. Mungkin karena kesibukan (melarikan 4 proyekan (running 4 projects) di luar kantor bareng-bareng, yang benar saja pak!), tetapi mungkin juga saya memang sudah agak bosan dengan mainan ini (boys never grow up). Diajak hunting model seksi di kafe tengah malam, saya tak mau. Diajak hunting nuddies dipreteli satu-satu, saya tak yakin *imron* saya kuat, jadi saya lagi-lagi tak mau. Lihat DVD-nya Ran Asakawa aja udah keder ;))

Saat ini shutter count Nikon D40 sudah menyentuh angka 20.000 lebih. Kecepatan rananya sudah sering ngaco. Apakah nanti di 2009 saya akan upgrade ke Nikon D80 atau Nikon D300? Entahlah, kalau ada orong-orong nyunggi gong lewat (binatang kecil yang konon mampu menyunggi alat musik gamelan jawa bernama gong — red), mungkin baru bisa dibeli, he he he…

Yang jelas, saya masih kepengen keluyuran keliling pulau Jawa untuk memotret objek-objek yang bagus. Saya tidak pernah menyediakan waktu khusus untuk hunting — biasanya waktu pulang kampung, pergi kondangan nikah, mendekati calon-bakal-calon isteri (PDKT maksudnya :P ), tetapi ketika ada kesempatan bepergian, saya selalu sempatkan untuk hunting foto.

Cheriooo, salam jepret!

Selamat Sore Tugu Pahlawan

Date December 30, 2008

FLICKR
Lokasi: Kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM

Empat tahun saya tinggal di Surabaya (kurun waktu Agustus 2002 - November 2006), saya belum pernah sekalipun berkunjung ke Tugu Pahlawan. Waktu itu saya belum terlalu suka keluyuran seperti sekarang ini. Jalan-jalan ke Tunjungan Plaza saja jarang, bahkan mall yang dekat kampus, Galaxy Mall, juga jarang. Hidup saya terlalu monoton dalam rute Perumdos ITS Blok F/2 - Keputih (sakinah, warung bu siti, pasar keputih) - Kampus TC - Pojokan Gebang - Perpustakaan ITS Lantai 6 (itsnet).

Kemarin, kebetulan bus Harapan Jaya yang mengantarkan saya tiba di Bungurasih agak terlalu awal. Tiba di stasiun Pasar Turi juga masih siang, padahal Argobromo Anggrek baru berangkat pukul 20:00. Jadi saya putuskan untuk menyapa Tugu Pahlawan. Merdeka Boeng!!

Read the rest of this entry »

Keluarga Pemusik

Date December 30, 2008

29 Desember 2008, Stasiun Pasar Turi, Surabaya

Saya terpaku melihat keluarga ini. Lebih terpaku lagi melihat penyanyi cilik bersuara luar biasa ini menyanyi. Lagu-lagu dari segala macam genre: pop, dangdut, pop luar negeri, hits populer Indonesia, tembang kenangan, hingga tembang Jawa melantun merdu dari suaranya yang diiringi oleh musik electone Yamaha yang dipencet ayahnya.

Saya terpaku dan terharu. Keluarga ini tampil menghibur penumpang Argobromo Anggrek dengan penuh keceriaan. Jauh dari kesan sedih. Si penyanyi cilik tunanetra itu sambil tersenyum-senyum membisiki ibunya jika lupa lirik yang akan dinyanyikan dan si ibu mengambil alih bait yang terlupa itu. Alamak, sang ibu juga memiliki suara yang tak kalah merdunya. Sekali-sekali ucapan terima kasih meluncur dari bibirnya.

Saya terharu karena saya jadi merasa kurang bersyukur. Tetapi bukan karena kasihan saya mengeluarkan sedikit uang dari dompet untuk saya masukkan ke kotaknya. Itu adalah apresiasi. Apresiasi atas karya seni yang mereka suguhkan saat menunggu keberangkatan Argobromo Anggrek yang malam itu terlambat setengah jam.